07/03/2009
Dari milis sebelah oleh Prof. Sarlito :
Polisi Indonesia di mata dunia hebat luar biasa. Para pakar kepolisian dari
seluruh dunia sering mendatangi saya untuk menanyakan bagaimana polisi Indonesia
membongkar kasus Bom Bali, menyelesaikan kasus Poso dan memperkecil ruang gerak
JI sehingga Indonesia praktis bebas bom selama 3-4 tahun terakhir (bandingkan
dengan Pakistan, dan Irak). Seluruh dunia tahu nama-nama Benny Mamoto, Ryco
Amelz, Petrus Golose, Tito, Usman Nasution, Surya Darma, Bekto dan Goris Mere,
dan masih banyak nama lain, termasuk nama Nasir Abas yang phenomenal itu. Bahkan
negara-negara lain patungan untuk mendirikan JCLEC di Semarang supaya mereka
bisa belajar langsung tentang anti terorisme di Indonesia. Bahkan bukan saja
terorisme, polisi Indonesia terkenal juga hebat dalam pemberantasan narkotika
dan perjudian serta perdagangan manusia. Tetapi masyarakat di Indonesia sendiri
kan tidak pernah berurusan dengan Goris Mere dan polisi-polisi hebat iru. Mereka
bertemunya dengan Bripda Asep, Bripka Suwarno atau Aipda Fulan, yang menjaga pos
di Polsek atau Polres hanya bersandal jepit, baju seragam tidak dikancing, dan
main game dengan komputer dinas. Ketika ada warga melapor, bapak-bapak ini
merasa kesenangannya terganggu dan minimal bersikap ketus pada warga itu, malah
bisa-bisa warganya dimarah-marahin. Banyak survey membuktikan bahwa citra Polri
belum naik di mata masyarakat Indonesia sendiri, walau sudah ada program Polmas,
sudah seminar di PTIK dan Sespim berkali-kali, dan Kapolrinya sudah ganti berapa
kali. Inti persoalannya sebetulnya sangat simpel, yaitu polisi tidak tampil
profesional. Ini bukan oknum loh, karena sebagian besar melakukannya. Malah
Goris Merelah yang "oknum", karena mereka hanya segelintir. Apa susahnya selalu
siap dengan pakaian rapi, selalu memanfaatkan kompiuer untuk mengerjakan
tugas-tugas dinas, dan selalu bersikap "senyum, sapa, salam" (tuh kan, banyak
yang sudah lupa pada slogannya Kapolri Kunarto ini). Semua ini gak ada urusannya
dengan gaji yang kecil dan fasilitas yang kurang, bukan? Jadi tidak benar kalau
dikatakan bahwa polisi bercitra buruk karena gaji kecil dan kurang fasilitas.
Mungkin hal itu benar untuk 20-30% saja pekerjaan polisi (tidak punya dana untuk
beli kapal patroli atau mengganti suku cadang mobil patroli atau pengadaan
Alkom dll), selebihnya yang 70-80% cukup diatasi dengan perubahan sikap saja.
Itupun bukan sikap yang aneh-aneh. Sejak SD pun kita diajari untuk berseragam
rapi, sopan pada teman dan hormat pada guru, selalu tepat waktu, kerjakan PR
dengan baik dsb. Mengapa setelah jadi Polisi, kok hilang semua itu? Malah dengan
alasan gaji kurang? Nah, waktu sekolah kita gak digaji, kok bisa tertib dan
disiplin?
Komentar
Belum komentar...
| Hari Ini | : | 100 |
| Kemarin | : | 139 |
| Online | : | 2 |
| Semua | : | 80.875 |




