23/02/2009
Silahkan di baca waktu senggang saja..!Mudah2an Bermanfaat..!
********
"Ada sesuatu yang tak berujud, namun sempurna, ada sebelum langit dan bumi tercipta, tanpa suara, tanpa isi, tak bergantung, tak berubah, merangkum, tak ada lelah, engkau mungkin menyebutnya ibu dari semua yang ada di bawah langit, jati dirinya, aku tak tahu pasti," kusebut dia dengan Tao.
Petikan kata mistis itu diambil dari kitab Tao Teh Ching, kumpulan syair yang terdiri dari 5000 kata, sangat memikat tentang ajaran Tao. Kitab ini ditulis sekitar 2500 tahun lalu, yang dihubungkan secara batin dengan guru tua, Lao Tze. Tak heran, jika renungan dalam kitab ini begitu dalam, yang membuatnya menjadi buku yang paling banyak diterjemahkan di dunia, setelah al-Quran dan Injil.
Tak ada yang tahu pasti, siapa pengarang kitab kebijaksanaan ini. Secara bahasa dan irama, diduga keras kitab ini ditulis sekitar abad ke-5 SM, dan merujuk pada dokumen arsip kerajaan pada periode yang sama, tampaknya dekat dengan masa hidup Lao Tze, yang mengasingkan diri karena intrik politik, dan menelurkan karya ini sebagai panduan hidup. Lao Tze memulai baris pertama kitab itu dengan indah: "suatu cara yang dapat diucapkan, bukan cara yang sebenarnya. sebuah nama yang dapat dipanggil, bukan nama sejati".
Tapi, Lao Tze bukan pengarang Tao Teh Cing. Ia mengaku hanya menyarikannya dari "jalan hidup" Kaisar Kuning, Huang Ti, bapak pendiri Cina, yang memegang tahta sekitar tahun 277 SM. Kaisar Kuning dipercaya telah mencapai tingkat kehidupan abadi, immortality, karena memahami rahasia mistis persetubuhan. Ia memlihara 1200 harem yang selalu ia gauli dengan prinsip yin dan yang, dan konon, di usia 111 ia moksa, abadi.
Kaisar mendapatkan ilmu itu dari percakapan dengan tiga penasihat kamarnya, Gadis sederhana Su Nu, Gadis misterius Hsuan Nu, dan Gadis pelangi Tsai Nu. Percakapan mereka inilah yang menjadi titik api tentang teknik-teknik persetubuhan Taois kuno, yang memakai energi seksual (hubungan seksual) untuk menambah kesehatan dan memperpanjang usia.
Ingat, tao bukan agama. secara harfiah, tao berarti jalan hidup, jejak, atau bekas. Tapi, secara etimologis, tao juga berarti kecerdikan. Ajaran tao yang utama adalah bagaimana agar kita dapat bertahan hidup dengan menciptakan harmoni bersama kekuatan alam yang sangat besar. Tao menjelaskan bahwa alam raga ini dilingkupi oleh tao teh atau kekuasaan tao, yang membagi tiga kekuatan yakni, tai hsu, kekosongan hebat, tai chi, sumber akhir tertinggi dan tai yi, penggerak tertinggi.
Ketika dentuman besar terjadi, tai chi memberikan yin dan yang untuk menciptakan jagad raya. Tak heran jika dari peristiwa ini, tao lebih memusatkan pada ajaran untuk harmonis di muka bumi, fokus pada kesehatan dan usia manusia.
Dalam tao, tak ada istilah takdir. Sesuatu hanya akan berhasil jika, dan hanya jika diusahakan sungguh-sungguh, melalui praktek, memanfaatkan kekuatannya yang tak akan habis. Itulah sebabnya, tao tak mengenal kekuatan doa apalagi mantra.
Pendekatan kehidupan ala tao yang paling esensial terdapat dalam kalimat ching-jing wu-wei, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai "duduk diam tanpa aktivitas apa pun".
Tidak melakukan sesuatu bukan berarti duduk sepanjang waktu, ibarat seonggok kayu, tapi justru beraktivitas tanpa gerakan. Ini secara mudah dapat dipahami sebagai meditasi: melakukan sesuatu secara spontan tanpa rencana, tanpa motif, tanpa keinginan untuk menaklukkan, selaras dengan alam, meditasi untuk meditasi.
Namun, yang paling penting dari prinsip wu-wei adalah mengetahui kapan kita harus berhenti mengerjakan sesuatu dan kapan harus menahan diri dari tindakan yang tak perlu. "tatkala usai kerjamu, berhentilah, itulah jalan langit."
Nah, karena itu juga, dalam tao, seks tidak dipahami sebagai sesuatu yang sakral. Tao hanya memasuki seks dan juga memahaminya sebagai apakah "persetubuhan itu sehat atau tidak". Dan karena dalam tradisi Cina seks adalah aktivitas yang biasa, tak beda dengan makan dan minum, fokus mereka pun habis untuk meneliti bagaimana mengoptimalkan seks untuk meningkatkan produktivitas kerja dan kesehatan. Inilah kenapa akhirnya tao lebih fokus pada lelaki, dan mengatur bagaimana lelaki dapat mencapai kenikmatan seksual tertinggi, sekaligus meraih kesehatan puncak. Dengan kata lain, sebagai "kitab persetubuhan", tao berusaha mencari harmonisasi antara kenikmatan seks dan kesehatan dalam satu jalan.
Sex ala Tao (2)
Mengerem penderitaan usai orgasm
Perbedaan essential antara sifat sex pria dan wanita terletak pada watak orgasm. Ketika seorang pria mengalami ejaculation, ia menyemprotkan sperm, sementara wanita tidak, meski tetap mengeluarkan juga cairan tubuhnya. Dan itulah sebabnya, jika ejaculation, pria kehilangan tenaga, sedang ketika wanita orgasm, justru menambah vitalitas.
Nah, kebiasaan ejaculation inilah perlahan tapi pasti merampas sumber tenaga pria, membuatnya lemah dan rentan atas penyakit. Sedang wanita, justru kian bugar, baik karena cairannya yang tak keluar, juga percampuran cairannya dengan cairan sang pria, yakni ibarat perpaduan yin dan yang. Dalam Tao, perbedaan ini dijelaskan dengan berbagai bahasa, yang mengambil posisi perubahan alam. Untuk orgasm wanita disebut gao-chao, yang secara harfiah diartikan "pasang naik", imaji grafis alam. Sedang untuk lelaki, ejaculation disebut dengan kehilangan cairan, membuang cairan atau menyerah. Orang TiongHwa juga mengatakan bahwa seorang wanita telah "membunuh" pasangannya jika dia membuat pria itu orgasm lebih dahulu daripada dirinya. Ini juga yang disebut sebagai petit mort, kematian kecil, oleh orang Prancis.
Karena itulah, Tao mengupayakan hubungan sexual perdasarkan prinsip langit dan bumi, mengikuti kaedah yin dan yang. Untuk diketahui, pria adalah milik yang, cepat naik dan cepat turun. Sedang wanita adalah milik yin, perlahan naik, tak pernah bosan dan jenuh. Tao melihat hubungan sex berdasarkan prinsip keselarasan. Tao mengamati secara detail, bagaimana hewan berkelamin jantan, acap tak punya tenaga dan mati setelah berhubungan dengan betinanya, seperti serangga, yang bahkan, setelah si jantan mengintimi, akan segera menjadi sejenis "makanan kecil" paska orgasm betinanya.
Tao melihat wanita dengan potensi sexual yang hebat, memiliki teh, tenaga yang sangat besar. Jolah Chang, seorang Taois dalam bukunya The Tao of The Loving Couple mengutip kesimpulan Mary Jane Sherfey mengatakan, dari tahun 12000 sampai 8000 SM, wanita TiongHwa tak dapat mengontrol tenaga sexualnya, dan menikmati kebebasan sex secara penuh dengan berbagai lelaki. Inilah yang membuat siklus masa pertanian tak berkembang, karena tenaga pria yang habis untuk "menggarap" lahan wanita, dan secara spontan membuat sistem perkotaan meningkat, sampai kemudian wanita dapat mengendalikan dorongan sexualnya.
Dari sejarah itu juga dapat diketahui bahwa sebenarnya secara sexual, wanita memang lebih unggul. Namun, bagi pria yang cukup berdiscipline mempraktikkan Tao, dan selaras mempelajari kosnep yin dan yang, akan mengakui Tao menghilangkan ketimpangan potensi sexual itu. Dengan mempraktekkan Tao, pria tak akan mengeluhkan seperti yang dikatakan Balzac, "hubungan sex semalam akan mengurangi satu halaman novelku," atau sinisme Miles Davis, musicians yang dalam Playboy April 1975 mengatakan, "Tenaga kita akan terkuras setelah orgasm." Tao akan membuat "penderitaan usai orgasm" dapat dihilangkan jika pria mau menahan memancarnya sperm. Sex para Taois dilakukan dengan pengaturan barter antara yin dan yang; pria mengorbankan sedikit kesenangan jangka pendek untuk memperoleh manfaat kesehatan dan umur panjang, sementara wanita mendapatkan kesenangan yang tetap sempurna. Ingat, yang akan diajarkan Tao adalah menahan ejaculation, bukan mencegah orgasm. Ini artinya, sudah sejak ribuan tahun lalu Tao menyadari bahwa orgasm berbeda dari ejakuasi. Hebat kan?!
Lalu bagaimana persebadanan yang cocok menurut Tao? Bagi Tao, sebagaimana yang dijelaskan kitab Huan Ti Nei Ching dan SU Nu Ching, essence sex dengan unsur yin dan yang adalah keseimbangan, harmoni danpenyatuan hal-hal yang bertentangan:
"Bagi seorang pria yang ingin memelihara keperkasaannya, ia harus memperkaya essence (cairan) yang-nya dengan cara menyerap cairan yin. Ketika pria dan wanita berhubungan sex, mereka saling menukar cairan tubuhnya dan saling menghirup napas pasangannya, yang ini seperti pertemuan api dan air dalam takaran yang pas, sehingga tak saling mengalahkan. Dalam berhubungan, pria dan wanita hendaknya menyurut dan mengapung, laksana gelombang dan arah angin laut. Sesekali ke arah yang satu, kemudian ke arah yang lain, tetapi harus selaras dengan "pasang besar". Dengan cara ini, keduanya dapat bertahan sepanjang malam, dan secara tetap menambah cairan vitalnya, menyembuhkan penyakit dan memperpanjang umur. Tanpa harmoni dasar yin dan yang, obat-obatan dan makanan yang baik tidak akan ada gunanya. Jika cairan vital ini mengering karena pemborosan yang berlebihan, tidak akan terisi kembali, hilang sama sekali."
Nah, begitulah sex menurut Tao, persebadanan yang harmonis, memberikan kenyamanan tak mengalahkan. Tulisan berikutnya akan menuntut Anda untuk tak "tenggelam" dalam gelora hubungan intim dengan mempelajari teknik "mengapung", yang mengubah tenaga sexual menjadi kekuatan murni. Tunggu ya?
Teknik Pengiritan Mani
"Pengiritan" mani memang menjadi inti dalam seni di atas ranjang a la tao. Namun, banyak yang salah paham tentang hal ini, dan menganggap tao tak memperbolehkan pria orgasme. Padahal, orgasme adalah pengalaman psikis, dan ejakulasi adalah pengalaman badani. Keduanya bisa datang bersamaan, juga bisa tidak, orgasme tanpa ejakulasi.
Kesalahpahaman ini jugalah yang dialami Kaisar Kuning, yang ingin berhenti bersanggama dalam rangka pengiritan mani. Tapi, Gadis Sederhana Su Nu Ching, menjelaskan duduk soalnya. "Sebagai manusia, kita tak boleh melakukan sesuatu yang diatur alam. Menghentikan berhubungan intim adalah melawan kehendak alam. Jika yin dan yang tidak mengadakan kontak, keduanya tak dapat saling menyelaraskan dan melengkapi. Kita bernapas untuk menukar udara yang kotor dan menggantinya dengan yang segar. Jika tongkat giok (penis) tidak aktif, maka akan mengalami atrofi, penyusutan salah satu organ atau jaringan sel. Itulah sebabnya, gerbang permata (vagina) harus selalu dikunjungi, dilatih secara konsisten. Jika seorang pria dapat selalu mengendalikan ejakulasi, ia dapat memperoleh manfaat besar untuk kesehatannya."
Tapi, adakah kenikmatan seksual tanpa ejakulasi? Barangkali itulah yang ada di kepala Anda, yang juga menjadi kerisauan Kaisar Kuning, ketika akan mempraktekkan hal ini. Tapi, pertanyaan itu terjawab oleh penasihat kaisar, Peng-Tze yang ditanyakan Gadis pelangi, sebagaimana tersurat dalam Secrets of the Jade Bedroom : "Tak ada kenikmatan yang terganggu. Setelah ejakulasi, seorang pria akan merasa lelah, telinganya berdengung, mata mengantuk, dan ingin segera tidur. Ia juga merasa haus. lemas dan kaku. Ejakulasi memang memberikan kenikmatan tetapi cuma sesaat, selanjutnya diikuti penderitaan yang berkepanjangan. Ini kenikmatan yang artidisial, sementara. Tetapi, jika seorang pria mau mengatur ejakulasinya seminim mungkin dan menahan maninya, maka tubuhnya akan menjadi kuat dan pikirannya tak bercecababg, jernih. Dengan sesekali menghindari diri dari sensasi nikmat sesaat ejakulasi, cinta si pria terhadap pasangannya akan bertambahy besar, ia seakan tidak akan pernah cukup memasuki "gerbang permata". Bukankah ini akan menjadi kenikmatan seks yang tak ada taranya?"
Sebagai perbandingan, pakar seks David Rauben dalam bukunya Everything You Ever Wanted to Know about Sex mengatakan seorang pria, setelah ejakulasi kedua, otomatis tak akan bisa lagi mengadakan hubungan seksual, dan butuh waktu yang panjang. Ini karena energi yang telah habis. Sementara wanita tidak demikian. Nah, pria yang tak berejakulasi, akan dapat melakukan terus hubungan itu, semau dia suka, dua atau tiga, bukan masalah. "Api yang tetap panas meski telah mendidihkan air dua kali."
Bercinta menurut tao, bukan pada romantika semata, tapi teknik yang benar. Bukan seperti bermain bola, hanya mencari kemenangan, tapi harus tetap memperagakan teknik yang hebat dengan mengikuti aturan bermain. Tao menjelaskan ini dengan istilah "strategi di tempat tidur". Sebuah novel erotis di zaman Dinasti Ming, Player Mat of the Flesh karya Lee Yu menjelaskan: "Dalam hal seks, yang menjadi daya tarik utama pria bukankah gunung dan lembah wanita tapi keingintahuan tentang ukuran dan daya letus dan tahan tongkat giok. Siapa yang akan menang dan kalah di tempat tidur tak ubahnya seperti di medan perang, mengetahui kekuatan sendiri sama pentignnya dengan meneropong kekuatan musuh."
Nah, banyak pria yang merasa, hanya butuh waktu lima menit untuk menaklukkan "gerbang permata". Padahal, ternyata, sebelum waktu itu, tongkat gioknya sudah memuntahkan lahar, dan energinya terbuang sia-sia, karena "api" tak dapat memanaskah air. Untuk itu, tao mengajarjan teknik pengiritan mani, yang secara sederhana akan kami jelaskan lagi, bagaimana mempraktekkan "kontak tanpa kebocoran".
Mendidihkan Air Menjaga Api
Untuk mengetahui reaksi pasangan apakah sudah siap disusupi tongkat giok, pria harus memahami enam hal; pemanasan, empat pencapaian, lima tanda, lima hasrat, sepuluh petunjuk serta lima kebajikan. Ini hal yang sangat vital sebelum penetrasi agar orgasme wanita dapat cepat terjadi.
Pemanasan adalah usaha untuk merangsang pelumasan pada wanita maupun ereksi pada pria. Usaha ini dilakukan sebelum melakukan hubungan intim. Menurut Gadis sederhana, pelumasan atau lubrikasi pada "gerbang permata" dan ereksi atau pengerasan "tongkat giok" sebelum kedua alat itu bertemu, adalah pertanda saling pengaruh antara yin dan yang.
Pemanasan juga berguna untuk memancing sistem energi tubuh yang berhubungan dengan rangsangan hubungan seks. Dalam bahasa tao, pemanasan ini disebutkan sebagai mendidihkan air sembari menjaga api tetap kecil.
Pemanasan hendaknya dimulai dari kaki dan tangan, bukan pada alat kelamin. Mulai dengan memijat atau meremas pergelangan tangan, kaki dan merambar ke bahu menuju dada, dari kaki terus menuju paha dan pinggang. Bagaimana pemasanan itu, Gadis sederhana tidak menjelaskan secara detil, tapi dia memberikan ciri dalam "lima hasrat", reaksi yang didapatkan wanita saat menerima rangsangan dari pria. Jadi, dapat ditarik kesimpulan, teknik pemanasan ini adalah memanaskan si wanita agar siap untuk disusupi tongkat giok, dan supaya tak menunggu waktu terlalu lama agar mencapai orgasme atau awan pecah. Jadi, intinya, memanaskan dengan tenang dan menjaga agar yang memanaskan, si pria, tidak ikut terbakar, dengan api yang tetap kecil.
Rute utama energi dan juga letak tempat yang peka ini akan membangkitkan energi, yang menuju kepada organ seks. Bagi wanita, tekanan jari yang kuat di tempat "persimpangan tiga yin", san-yin-jiao, yang terletak tepat di belakang tulang garas, kira-kira tiga inci dari tulang pergelangan kaki sebelah dalam, biasanya sangat efektif dalam membangkitkan energi seksual. Punggun bawah, tulang belakang, dan bawah permukaan lengan dan kaki merupakan daerah sensitif, baik bagi pria maupun wanita.
Setelah pemanasan, Anda harus memperhatikan "empat pencapaian" organ pria sebelum menyusupi "gerbang permata". Petunjuk empat pencapaian ini dijelaskan Gadis Misterius pada Kaisar Kuning: "Jika "giok" itu tidak cukup panjang, emergi vital si pria akan terkuras saat menyusupi gerbang permata. Jika cukup panjang tapi tidak besar, energi ototnya kurang mencapai target. Jika cukup besar tapi tak keras, sendi dan urat daging tidak akan kuat, dan jika semua tercukupi tapi tidak panas, energinya tidak akan meledakkan "gerbang permata". Untuk mempersiapkan hubungan intim, pria harus punya energi, yang sudah tersimpan di dalam tubuh jika tidak membuang mani secara sembarangan."
Bersambung..........
Komentar
Belum komentar...
| Hari Ini | : | 96 |
| Kemarin | : | 139 |
| Online | : | 2 |
| Semua | : | 80.871 |




